Upacara Kematian Khas Adat Batak

Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa memang sangat unik, beragam tradisi dari berbagai macam daerah yang berbeda-beda selalu menjadi daya tarik tersendiri. Banyak sekali adat istiadat yang ada di setiap suku di Indonesia. Salah satu suku yang selalu menarik perhatian adalah Suku Batak. Suku Batak dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang memiliki berbagai macam upacara adat yang unik, salah satunya adalah upacara kematiannya. Jika di daerah lain upacara kematian identik dengan suasana penuh duka, namun berbeda dengan apa yang akan kamu temui di Suku Batak.

Kematian pada Suku Batak identik dengan pesta batak dan suka cita. Mereka akan sangat menghindari suasana yang penuh dengan duka dan tangis, karena mereka percaya jika roh orang yang telah meninggal tidak akan tenang. Oleh sebab itu, orang yang meninggal di Suku Batak akan mendapatkan perlakuan khusus yang akan diperingati dengan adanya Upacara Kematian. Namun tidak semua kalangan akan mendapatkan peringatan ini, upacara kematian memiliki beberapa klasifikasi yang dibedakan berdasarkan usia dan status orang yang meninggal.

Jika yang meninggal dunia tersebut adalah janin yang masih ada di dalam kandungan maka tidak diwajibkan untuk mendapatkan upacara kematian. Upacara kematian akan mendapat perlakuan adat yang lebih apabila orang yang meninggal adalah orang yang sudah berumah tangga namun belum mempunyai anak, telah berumah tangga dan memiliki anak yang masih kecil, telah memiliki anak namun belum bercucu, telah memiliki cucu namun masih ada anak yang belum menikah, dan yang terakhir adalah telah memiliki cucu namun tidak harus dari anak-anaknya. Kelima golongan orang tersebut akan mendapatkan perlakuan upacara kematian yang berbeda dan sangat khas.

Sijagaron Sebagai Simbol Kematian Dalam Upacara Adat Batak

Dalam melaksanakan upacara kematian, ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan dan wajib ada. Benda ini dinamakan dengan sijagaron yang menjadi simbol penting pada acara kematian dan memiliki nilai filosofis dan makna yang mendalam bagi masyarakat Batak.sijagaron merupakan salah satu jenis tanaman yang akan dirangkai dengan beberapa benda lainnya yang nantinya akan digunakan pada upacara kematian. Benda ini biasanya akan diletakkan pada bagian atas peti mati orang yang meninggal.

Meskipun merupakan salah satu benda yang dikenal sebagai simbol kematian dalam upacara adat Batak, namun sijagaron ini tidak boleh diberikan untuk sembarangan orang yang meninggal lho! sijagaron hanya bisa diberikan kepada orang yang sudah berusia lanjut dan memiliki banyak keturunan atau dalam istilah Batak disebut dengan “Saur Matua”.

Karena tidak diberikan kepada sembarangan orang, sijagaron dianggap memiliki arti terpandang. Benda ini merupakan sebuah simbol keberhasilan seseorang yang sudah meninggal pada masa hidupnya. Keberhasilan ini ditentukan jika semua anak yang dimilikinya sudah menikah dan hidup dengan mapan. Selain tidak diberikan kepada sembarang orang, pembuatan sijagaron juga tidak boleh dibuat secara sembarangan. Pembuatan sijagaron ini ternyata harus sesuai dengan beberapa ketentuan lho!

Pembuatan sijagaron ini harus terdiri dari beragam tanaman yaitu hariara (ara), silinjuang (sejenis tumbuhan dengan batang lurus), daun beringin, bunga bakung (ompu-ompu), ilalang beruas (sanggar), sihilap (sejenis tumbuhan daun kipas), pilo-pilo (daun enau muda) kemiri, padi, dan telur ayam atau dalam bahasa Batak disebut dengan pira ni manuk. Kesemua benda ini akan disatukan dan ditancapkan ke dalam tumpukan padi yang ada di dalam sebuah bakul yang terbuat dari anyaman bambu.

Selain diberikan di atas peti mati, sijagaron ini wajib dibawa di atas kepada menantu perempuan keluarga orang yang meninggal pada saat upacara kematian. Menantu perempuan ini akan membawa bakul tersebut dengan memutari ruangan sebanyak tiga kali. Setelah upacara kematian selesai, padi yang ada di dalam bakul akan disebar ke halaman pemilik rumah. Hal ini dipercaya akan memberikan kesuksesan dan masa depan yang cerah.